Kedengarannya ngawur ya, tim engineer kok malah dilarang ngoding. Tapi ini eksperimen yang sedang aku jalankan.
Belakangan aku makin sadar, nulis kode itu sudah makin murah. AI sudah bisa bantu banyak banget. Tantangan terbesarnya sekarang bukan di ngodingnya, tapi di validasi ide dan masalah.
Kita mesti yakin dulu, yang kita bangun ini benar-benar dibutuhkan orang, bukan cuma yang kita rasa keren. Nah, dari situ aku atur ulang cara kerja tim. Aku sebut aja eksperimen ini overnight development.
Manusia pegang siang.
Mesin pegang malam.
Review dan testing
Pagi dipakai untuk memeriksa hasil development semalam. Apa yang sudah berjalan? Apa yang masih perlu dibenahi?
Dilarang ngoding
Waktu ini penuh untuk product discovery. Ketemu pengguna, dengarkan komplain, validasi masalah yang benar-benar ada. Bukan yang kita karang sendiri di ruang meeting. Hehe.
Susun rencana, lalu pulang
Dari obrolan tadi, tim menyusun plan di Jira. Masalahnya apa, solusinya bagaimana, lalu dipecah jadi task yang jelas. Terus pulang. Benar-benar pulang, tidak lembur.
Giliran mesin bekerja
VM yang sudah disiapkan berjalan lewat cron job. AI menarik task dari backlog, menyusun prioritas, lalu mengerjakan coding, membuka PR, melakukan review, memperbaiki conflict, sampai merge dalam lingkup eksperimen ini.
Rasanya seperti Bandung Bondowoso.
Kadang aku merasa seperti Bandung Bondowoso. Dia memanggil pasukan jin buat membangun Candi Prambanan semalam, aku “memanggil” pasukan AI buat mengerjakan backlog semalam. Hehe.
Paginya tim masuk, mengecek hasil kerja si mesin, dan siklusnya berputar lagi. Jadi developer di sini sebenarnya bukan digantikan AI, cuma dipindah shift-nya.
Perannya bergeser: dari mengetik kode, jadi memahami kenapa sesuatu dibangun.
Manusia memegang shift siang: discovery, validasi, spec, dan PRD. Mesin memegang shift malam: build, PR, review, dan merge. Satu loop 24 jam yang saling mengoper pekerjaan.
Masih eksperimen. Bukan resep universal.
Aku jujur belum tahu ini bakal bertahan atau tidak. Masih banyak yang harus dirapikan. Tapi satu hal makin terasa: tim tercepat di era AI bukan yang paling jago mengetik, tapi yang paling cepat memahami mana yang layak dibangun.
Ini mengingatkanku pada gagasan Jevons Paradox: ketika sesuatu makin efisien dan murah, penggunaannya justru bisa meningkat. Dalam konteks coding, yang menarik bagiku adalah pertanyaan berikutnya: ketika membangun menjadi lebih mudah, bagaimana kita memilih masalah yang benar-benar layak dipecahkan?
Dan tentu saja, cara ini tidak cocok untuk semua proyek. Ada pekerjaan yang tetap membutuhkan manusia memegang penuh dari awal sampai akhir. Ini eksperimen pada jenis pekerjaan tertentu, bukan resep untuk semua tim.
Teknologi berubah.
Pertanyaan yang baik tetap penting.